Rencana Tuhan

Sebetulnya keinginan untuk share cerita ini tiba-tiba nongol dalam pikiran saya ketika saya menerima email dari seorang gadis, yang isinya sungguh sangat menyayat hati saya, dan membuat saya pengen menangis dan rasanya pengen meluk dia secara langsung.

I cannot say, “I know what you feel”, coz I’ve never been on your shoes… 

But I know it must be hurt being you…


Cerita gadis remaja ini mengingatkan saya pada kakak angkat saya, yang nasibnya jauh lebih buruk dari gadis remaja ini…
Namanya Kania (bukan nama sebenarnya). Dia lahir dari keluarga yang berkecukupan. Sayangnya, dia tidak dikaruniai keberuntungan seperti perempuan lainnya, yang memiliki penampilan yang enak dipandang. Kondisi inilah yang kemudian membuat hidupnya terabaikan.
Penampilan fisiknya maupun wajahnya “tidak sebagus” perempuan2 sebayanya. Dia gak punya banyak teman, apalagi pacar. Disaat temen-temen seusianya merayakan party sweet 17 mereka, Kania justru hanya mengurung diri dirumah dan tidak pernah bersosialisasi. Apalagi pacaran, duh,… boro-boro deh…
Untungnya, Kania tidak tenggelam meratapi nasibnya. Dia tahu, dia tidak mungkin merubah penampilan fisiknya, tetapi dia bisa berbuat sesuatu buat hidupnya. Hampir seluruh waktunya dihabiskan untuk belajar banyak hal, membaca buku dan berprestasi.

Singkat cerita, begitu UMPTN tiba, bisa ketebak dong… YES! Dia lulus masuk perguruan tinggi negeri, fakultas KEDOKTERAN. Tapi cobaan belum selesai sampai disitu. Karna tidak ingin menyusahkan keluarganya yg terlalu pesimis dia bisa lulus di fakultas kedokteran ini, akhirnya dia sering mangkal di perpustakaan kampus sampai malam. Apalagi kalau bukan belajar, karna buku diktat kedokteran yang kalau dipake nimpuk orang bisa mati itu, emang jarang yang boleh dibawa pulang. Singkat cerita lagi… Satu malam, begitu pulang dari perpustakaan, dia dihadang oleh sekelompok pemuda gank yang sedang mabuk2an.

Disinilah malapetaka terjadi…

 

Kania diperkosa beramai-ramai oleh pemuda yang mabok itu…
Gak kebayang kan apa yang dirasakan Kania… Hidup sungguh tidak berpihak padanya,.. penampilan fisiknya “tidak bagus”… sekarang dia diperkosa pulak beramai-ramai oleh orang yang tidak dia kenal!
Bukan cuma stres,… tetapi trauma yang sangat dalam, sehingga akhirnya Kania menderita gangguan jiwa, alias Gila. Iya… GILA!

Mama punya kebiasaan jalan pagi… Dan mamakulah yang kemudian menemukan Kania, membawanya pulang, dan merawatnya seperti anaknya sendiri… Memeluknya, dan memastikan bahwa Kania tetap merasa hidupnya masih berharga…
Tapi trauma yang dialami Kania terlalu dalam dan sulit disembuhkan. Kuliahnya di kedokteran terputus, kerjanya luntang lantung dari rumah ke rumah… sering tertawa-tawa atau menangis sendiri. Dia semakin dikucilkan.. dan pada saat-saat seperti itu, hanya mamaku yang selalu merangkul dia dengan penuh kasih sayang. Buat mama, Kania adalah pelipur laranya, disaat dia harus berjuang melawan penyakit gagal ginjal yang menyebabkan dia harus cuci darah 2x sehari. Tiap kali dia kerumah dan tertawa-tawa, mamaku ikut tertawa, atau bahkan menangis bersama…

Singkat cerita lagi, berkat CINTA… kania perlahan-lahan mulai sadar, pelan-pelan bangkit dan mencari kesembuhan dalam Tuhan. Jiwanya dipulihkan, akar kepahitan dalam hatinya dicabut, dan tertatih-tatih dia belajar bangkit kembali. Dia mulai mengisi hidupnya dengan banyak membaca… dan satu ketika, dia mengutarakan niatnya pada mama untuk merantau ke BALI, dan menjadi tour guide disana.

Yang paling menggenaskan dari peristiwa itu adalah… Dia HAMIL!

 

Ya, dia hamil justru dari hasil perkosaan banyak laki-laki, dan dia tidak tahu siapa yang harus dituntut… Apa yang sanggup saya ceritakan disini tentu saja sangat-sangat jauh lebih berat daripada yang benar-benar dia alami. Untunglah, belajar dari mama, Kania tumbuh kembali jadi pribadi yang kuat dan mempercayakan sepenuhnya hidupnya dalam tangan Tuhan.

Singkat cerita lagi, Kania berangkat ke Bali, berbekal kamus bahasa Inggris dan buku2 pengetahuan tentang Bali. Anaknya dititipkan pada salah satu keluarga jauh yang kebetulan juga tidak punya anak. A Coincidence? NO!… itu pasti Tuhan yang atur. Dipesawat, dia duduk disamping seorang bule yang gantengnya selangit. Berkebangsaan Swiss, sebut saja namanya Fritz. Dia terus saja memperhatikan Kania yang sejak awal sibuk terus mempelajari peta Bali. Dia mulai mengajak Kania ngobrol, dan karena Kania anak yang mencintai kehidupan, setiap perkataannya selalu menyatakan betapa baiknya Tuhan, even dalam kepahitan hidup sekalipun.

Ahhh… Kalau Tuhan sudah turun tangan, apa sih yang gak mungkin? Fritz jatuh cinta pada sosoknya yang tegar dan tetap bersemangat menjalani hidupnya… He can see her beauty lying deeply in her heart. Singkat cerita lagi nih… Satu ketika tiba-tiba dia nelpon mama, jerit-jerit, sambil bilang,

“MAMAAAAAAAAA… aku mau menikahhhhhh…”

 

Mamaku ketakutan setengah mati. Mama panik..
Manusia Jahat mana lagi nih yang mau merusak hidup anak ini… Mama ngotot pengen nyusul ke Bali… Giliran aku yang panik. Lah, orang cuci darah kalo kemana-mana kan gak bisa dadakan, perlu persiapan macem-macem, harus bawa surat pengantar dari RS yg bersangkutan dsb. Tapi mama tetap ngotot mau berangkat. Untungnya, sebelum mama berangkat, Kania dan suaminya datang kerumah dan menyatakan keseriusan mereka untuk menikah. Semua orang seakan tidak percaya, sempat ternganga-nganga, secara… suaminya guantengnya minta ampun, tingginya mungkin 3x dari Kania…

Wowww… God really have a strange sense of humor…. But this is true… 

this is real.

 

Lelaki dihadapan kami ini bukan khayalan, seperti pangeran yang datang dengan kuda putih… He is real. Dan singkat cerita, Mereka akhirnya beneran menikah… Yang makin bikin smua orang takjub adalah… Fritz tidak hanya memboyong papa mamanya ke Indonesia, tetapi memboyong seluruh keluarganya dengan mencarter 1 pesawat. Bahkan buket bunga pengatin dan hiasan kepalanya dibawa langsung dari Swiss… Pokoknya saat itu seluruh keluarga seperti tersihir, mereka tidak pernah membayangkan nasib sungguh pada akhirnya berpihak pada Kania.

Saat ini, Dia hidup bahagia bersama kedua anak yang lahir dari pernikahannya dengan Fritz. Anak pertamanya tadinya ikut keluarganya… Beberapa malam lalu kami berkirim email, ternyata gadis remaja itu juga sekarang menetap di Swiss bersama mamanya.
Dia tetap seperti dulu, tetap tidak cantik, tubuhnya pun tetap “tidak tinggi”,… masa lalunya juga tetap menjadi bagian terkelam dalam sejarah kehidupannya…
Tetapi satuhal yang dia pelajari dari sana… Bahwa sedetikpun Tuhan tidak pernah memalingkan wajahnya dari Kania,.. even if she is fisically… “not beautiful”

So, buat siapapun yang merasa hidupnya paling menderita, tidak beruntung, tidak cantik,.. mungkin sumbing… atau mungkin (maaf) cacat sekalipun… Remember this dear… God must have a beautiful blue print for your life..

All you need to do is trying to dig deeply into your heart… and you will find the answer.

 

Selamat mencari Tuhan dalam hatimu… dan selamat mencintai kehidupan…
Salam hangat,

Silly

Sejarah Papua


Sebelum abad VI dan VII sesudah Masehi pulau (Papua) yang terbesar kedua di dunia ini masih belum dikenal oleh dunia. Dunia hanya mengenalnya sebagai sebuah daratan yang tak dikenal (Pigay, 2000:93). Papua dikenal oleh bangsa luar setelah abab VI dan VII sesudah Masehi melalui perdagangan dan pelayaran para pedagang Persia dan Gujarat serta pedagang-pedagang India.

Ketika mereka melihat pulau itu menyebutnya dengan Dwi Panta dan juga Samudranta yang artinya Ujung Samudra atau Ujung Lautan. Dua abad kemudian (abad VIII) para pelaut dan pedagang Cina melakukan transaksi dagang. Mereka membeli burung Nuri, Kakaktua, dan burung-burung kuning dengan cara barter berupa Piring, Bangkok Porselin, dan benda-benda lain. Tempat asal rempah-rempah ini oleh pedagang Cina diberi nama Tungki.

Awal abad XVI Masehi (1500-1800) Antonio d’Abrau (d’Arbreu) 1511 dan Francesco Serano 1521 menyebut wilayah besar itu dengan nama “Os Papuas” atau Ilha de Papo Ia. Tahun 1526-1527, Don Jorge de Menetes juga dari Portugis menamakannnya Papua. Nama Papua diketahui dalam catatan harian Antonio Figafetta juru tulis pelayaran Magelhaens yang mengelilingi dunia.

Nama Papua diketahui saat ia singgah di Tidore dan saat itulah nama Papua lebih dikenal di seluruh dunia. Dalam bahasa Tidore Papo ua artinya tidak bergabung. Pelaut Spanyol Alvaro de Savedra yang tidak bersamaan dengan pelayaran Magelhaens ketika menancapkan jangkar kapalnya di pantau Utara Papua tahun 1528, ia menamai pulau itu Isla del Ora atau Island of Gold yang artinya pulau emas. Pelaut Spanyol lain, Ini Go Oertis de Retes memberikan nama Nueva Guinea (Nova Guinea, bahasa latinnya atau Netherland Nieuw Guinea, diberikan oleh orang Belanda). Ia memberikan nama itu setelah ia melihat penduduknya mirip dengan penduduk Guinea di Afrika Barat (sebuah Negara bekas jajahan Portugis).

Nama Papua dipertahankan hampir dua abad lamanya baru kemudian muncul Nieuw Guinea. Pada abad ke-19 kedua nama ini dikenal secara luas. Nama Nieuw Guinea terkenal sejak abd ke-16 setelah tampak dipeta dunia (dipakai oleh dunia luar terutama Negara-negara Eropa). Pada tahun 1940-an di kampung Harapan Holandia (sekarang Jayapura) beberapa dewan suku (Frans Kasiepo, Corinus Krey,Yan Waromi) dari sekolah pemerintahan yang didirikan oleh Residen JP Van Eechoud dalam rangka mewujudkan “Papuanisasi” memunculkan ide pergantian nama Papua atau Nieuw Nuinea.

Ide tersebut terwujud pada pertemuan kedua di Ifar Gunung Holandia. Mereka memilih sebuah nama yang berasal dari Biak dan nama tersebut diambil dari sebuah mitos Mansren Koreri, yaitu Irian. Dalam bahasa Biak Iri artinya tanah dan An artinya panas, jadi Irian berarti tanah panas (Pigay, 2000:96). Namun menurut Koentjaraningrat (1994) Irian (Iryan) berarti “sinar matahari yang menghalau kabut di laut”, sehingga ada harapan bagi para nelayan Biak untuk mencapai tanah dataran seberangnya.

Pada tanggal 16 Juli 1946 nama Irian disosialisasikan di konferensi Malino oleh Frans Kasiepo melalui pidatonya mewakili Papua. Selanjutnya nama Irian dipolitisir lewat para pejuang merah putih seperti Marthen Indey, Silas Papare, dan para Digulis lainya pada masa perjuangan perebutan Papua dari tangan Belanda untuk Ikut Republik Anti Netherland (IRIAN), Muhamd Yamin melalui Pigay, (2000:97), padahal bangsa Papua tidak pernah membenci bangsa manapun.

Nama tersebut tidak terkenal di seluruh dunia sekalipun sudah sekian lama dicetuskan oleh para pembela merah putih. Sepanjang Konferensi Meja Bundar hingga penyerahan Papua tetap masih menggunakan West Nieuw Guinea. Nama Irian secara umum digunakan setelah 1 Mei 1963 dengan sebutan Irian Barat.

Pada tanggal 1 Meret 1973 sesuai dengan peraturan No. 5 tahun 1973 nama Irian Barat resmi diganti oleh Presiden Soeharto dengan nama Irian Jaya. Pergantian tersebut dilakukan bersamaan dengan peresmian eksplorasi PT Freeport yang telah masuk ke Erstberg jauh sebelum UU PMA Nomor 1 tahun 1967 itu disahkan (sebelum Papua sah menjadi bagian dari Indoneia melalui PEPERA 1969).

Dalam perjalanan sejarah selanjutnya dengan berjalannya waktu, masyarakat Papua mulai memahami bahwa nama-nama tersebut menunjukkan sebuah nama yang bermuatan politik. Masyarakat Papua mulai menyadari bahwa nama-nama tersebut bukan berarti konstan dan abadi. Mereka terus mencari sebutan yang benar-benar menunjukkan identitas Papua yang rasional bukan politis. Dengan berjalannya waktu, masyarakat Papua menyadari bahwa nama Papua adalah sebuah nama yang menunjuk pada identitas orang Papua. Namun, antara tahun 1973-2000 nama Papua dilarang digunakan di Papua. Orang yang menggunakannya dianggap Organisasai Papua Merdeka (OPM) sehingga dibunuh atau dipenjara.

Setelah melalui masa-masa refresif (tahun 1973-2000), akhirnya pada tanggal 26 Desember 2001 Presiden Abdulrahman Wahid memberikan hadiah natal menggantikan nama Irian Jaya menjadi Papua perjuangan rakyat Papua. Namun, hingga saat ini, orang Papua merasa pas menyebut pulau cenderawasih itu dengan, Papua Barat/West Papua. Tidak tahu, kapan dia akan berganti menjadi West Papua secara resmi? Kita tunggu para pengukir sejarah bangsa!

Oleh: www.yerifile.co.cc (Sabtu, November 19, 2011)  
https://www.youtube.com/watch?v=WU8N2m9Bsw0