Lidah seorang
Murid (Yesaya 50:4a)
Jika kita menonton siaran berita
melalui media televisi, kita akan menemukan begitu banyak permasalahan yang
terjadi dalam kehidupan ini yang bersumber dari lidah. Sebagai murid Tuhan,
kita tentu tidak boleh melakukan perbuatan yang demikian. Tuhan telah
memberikan kepada kita lidah seorang murid, supaya dengan perkataan, kita dapat
membangun orang yang sedang letih lesu, patah semangat, berbeban berat,
sehingga mereka mendapatkan semangat yang baru.
Apa yang harus kita lakukan untuk
memiliki lidah seorang murid?
Ada banyak contoh lidah yang
jahat, salah satunya ialah mengomel. Ada orang Kristen yang setiap hari
mengomel, selalu melihat ada yang salah dalam setiap perkataannya tidak
memberikan semangat atau membangun orang lain, sebaliknya justru menghancurkan
orang lain. Ada juga gosip, gosip memang perkara yang tidak mudah dihilangkan,
banyak orang Kristen yang tanpa sadar ikut membicarakan hal-hal yang buruk
tentang orang lain. Perlu disadari, bahwa gosip itu adalah dosa. Ketika saudara
mulai membicarakan hal-hal yang buruk tentang orang lain, tanpa sadar saudara
sudah memberikan penghakiman kepada orang tersebut, padahal penghakiman adalah
haknya Tuhan.
Kata-kata yang lembut dapat
menenangkan hati yang galau dan banyak orang akan merasa diberkati.
Sesungguhnya banyak konflik / pertengkaran terjadi akibat dari penggunaan lidah
dengan cara yang salah. Banyak orang bertengkar hanya karena sepele, namun
masalah yang sepele bisa mejadi sangat besar jika dibarengi dengan kata-kata
kasar yang keluar dari emosi yang meluap. Kitab Yakobus menggambarkan lidah itu
seperti api. Lihatlah api, betapapun kecilnya api namun jika digunakan dengan
cara yang salah dapat membakar hutan yang besar dan banyak korban jatuh
karenanya. Sebaliknya. Masalah yang besar akan dapat diselesaikan dengan mudah
jika kita menggunakan kata-kata lembut dan menenangkan hati. Karena itu
milikilah lidah yang lembut dan bijaksana sehingga melalui perkataan kita orang
merasakan damai sejahtera dan sukacita surgawi. Namun, lembut bukan berarti
lemah, didalam kelembutan harus terdapat ketegasan prinsip. Dalam menyampaikan
ketegasan, harus disertai dengan kebijaksanaan.
Dalam ayat ini kita melihat
bagaimana musa mencoba berdalih kepada Tuhan untuk tidak melakukan perintahNya
yaitu berbicara kepada raja firuaun untuk membebaskan bangsa Israel dari
perbudakan. Musa menggunakan alasan “Sebab aku berat mulut dan berat lidah”.
Tetapi jawaban Tuhan: “ Siapakah yang membuat lidah manusia?” hal ini
menunjukan bahwa Tuhan adalah Allah yang berkuasa atas lidah, sebab Dialah yang
menciptakan lidah manusia. Marilah kita menyerahkan lidah kita dalam penguasaan
Tuhan setiap hari. Penggunaan lidah yang tidak diserahkan kedalam penguasaan
Tuhan akan membawa kita jatuh kedalam berbagai masalah dan pencobaan. Salah
satu cara agar lidah kita dikuasai oleh Tuhan adalah dengan banyak memuji dan
menyembah Tuhan, banyak berbahasa Roh dan mengucapkan janji-janji Tuhan dalam
hidup kita.
